Skip to main content

Ketika mahasiswa harus punya software berlisensi.. bisa apa ??

Silahkan dibaca sendiri keterangannya kalau kelihatan..
Tulisan ini bukan dimaksudkan sebagai provokasi, hanya menyuarakan opini saja. Silahkan setuju atau tidak setuju, itu hak anda..
 
Ini adalah diantara alasan saya pindah menggunakan Linux dan F/OSS (Free/Open Source Software), yaitu karena saya mengalaminya sendiri, yakni ketika mahasiswa di-exclude dari fasilitas ini, ditambah lagi kemudian pihak institusi kemudian "masa bodoh" dengan software apa yang dipakai oleh mahasiswa.

"pokoknya tools harus sama kayak dosen.."

"pokoknya format harus sesuai dengan yang diminta kampus.."

"pokoknya nanti praktikum harus pakai ini, dan kamu harus punya itu.."

"dan pokoknya-pokoknya lainnya.."

Begitulah diantara komentar-komentar yang kemudian terdengar..

Yang intinya, kamu HARUS punya..

Gak peduli software-mu itu beli, kredit, utang atau cari di GOOGLE.. ?!

Ya, saya pernah disuruh cari software buat kuliah di Google..

Padahal software-nya itu proprietary, berlisensi berbayar..

Hingga akhirnya siklus piracy di tingkat institusi akademik ini pun belum ada solusinya,

Tapi itu dulu sih, duluu.....

Semoga sekarang sudah tidak ada lagi yang bernasib seperti saya...

Iya... semoga :)

Comments

Popular posts from this blog

Selembar kain putih di Masjid Cheng Hoo...

suatu hari, ketika berkunjung kesana.. Bagi yang pernah mengunjungi Masjid Cheng Hoo di Surabaya, mungkin akan mendapati pemandangan seperti ini, yaitu adanya selembar kain putih yang dibentangkan untuk menutupi besi pembatas sebelah utara, akan tetapi untuk pembatas sebelah selatan, sama sekali tidak ada kain yang menutupi. Sedangkan yang pernah mengunjungi masjid ini di awal-awal peresmiannya, maka akan mendapati kedua besi pembatasnya sama-sama tidak ada yang ditutup dengan kain. Kenapa bisa seperti itu?

Ketika Orang Jepang Semakin Langka..

  grafik populasi penduduk jepang 2010 - 2015 Dari kurun waktu lima tahun terakhir, 2011 adalah tahun terakhir jumlah penduduk disana meningkat, yakni mencapai 128 juta jiwa. Sekarang? tinggal 127 juta jiwa (lihat gambar grafik). Bahkan ada yang berani bikin proyeksi, dalam seratus tahun kedepan penduduknya bakal tinggal 40 juta jiwa saja. Kenapa bisa begitu ? Menurut teori penulis, jawabannya adalah karena Jepang sejatinya memiliki masalah sosial kemasyarakatan yang cukup parah walaupun secara keduniaan sangat maju.