Skip to main content

Ketika adegan ciuman lolos sensor..

Belakangan ini, sedang hits di kalangan pejabat untuk melakukan aktifitas blokir-ngeblokir dan nyensor segala macam produk/jasa dan apapun yang dirasa tidak baik oleh pihak terkait. Mulai dari situs internet, layanan streaming, film kartun sampai game juga masuk ranah pembahasan untuk diberikan sensor hingga blokir.



Kalau ditanya tujuannya, maka jawaban yang muncul adalah untuk menjaga dan melindungi "konsumen" dari bahaya konten tersebut. Akan tetapi, penulis kemudian dapat kabar tentang sebuah film bioskop remaja, dimana didalamnya terdapat adegan ciuman (kissing) antara dua sejoli yang bukan mahrom dan belum nikah, tapi ternyata lolos sensor. Oke, anggaplah adegan ini sudah umum, biasa, lumrah, wajar dilakukan oleh orang yang pacaran, dan biasa untuk ditonton oleh orang banyak.

Tapi tolong, bantu saya menjawab pertanyaan ini:

Manakah yang lebih "aman" dan "lumrah" untuk dilihat, antara adegan ciuman dan mesum sepasang kekasih yang belum halal ataukah kartun humor tentang bintang laut dan spons yang berperilaku konyol?

Comments

Popular posts from this blog

Selembar kain putih di Masjid Cheng Hoo...

suatu hari, ketika berkunjung kesana.. Bagi yang pernah mengunjungi Masjid Cheng Hoo di Surabaya, mungkin akan mendapati pemandangan seperti ini, yaitu adanya selembar kain putih yang dibentangkan untuk menutupi besi pembatas sebelah utara, akan tetapi untuk pembatas sebelah selatan, sama sekali tidak ada kain yang menutupi. Sedangkan yang pernah mengunjungi masjid ini di awal-awal peresmiannya, maka akan mendapati kedua besi pembatasnya sama-sama tidak ada yang ditutup dengan kain. Kenapa bisa seperti itu?

Ketika Orang Jepang Semakin Langka..

  grafik populasi penduduk jepang 2010 - 2015 Dari kurun waktu lima tahun terakhir, 2011 adalah tahun terakhir jumlah penduduk disana meningkat, yakni mencapai 128 juta jiwa. Sekarang? tinggal 127 juta jiwa (lihat gambar grafik). Bahkan ada yang berani bikin proyeksi, dalam seratus tahun kedepan penduduknya bakal tinggal 40 juta jiwa saja. Kenapa bisa begitu ? Menurut teori penulis, jawabannya adalah karena Jepang sejatinya memiliki masalah sosial kemasyarakatan yang cukup parah walaupun secara keduniaan sangat maju.